Panen PM-AAS di Gunungkidul, Produktivitas Padi Meningkat hingga 49 Persen
GUNUNGKIDUL – (29/10/2026) Penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan hasil positif. Berdasarkan hasil ubinan padi yang dilaksanakan pada Kamis (29/10/2026), penerapan model tanam PM-AAS mampu meningkatkan produktivitas padi dibandingkan pola tanam eksisting.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Kementerian Pertanian, meliputi Tenaga Ahli Menteri Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, Tenaga Ahli Menteri Bidang Stabilisasi Harga Pangan, dan Direktur Perbenihan. Turut hadir Kepala BRMP Yogyakarta, jajaran Dinas Pertanian DIY dan Kabupaten Gunungkidul, Ketua HKTI Gunungkidul, unsur kapanewon dan kalurahan, BPP Playen, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta ketua gapoktan se-Kapanewon Playen. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan ini menjadi bentuk dukungan terhadap penerapan pertanian modern untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat ketahanan pangan.
Ubinan pertama dilaksanakan di lahan Poktan KT Sido Maju, Karangduwet 2, Karangmojo, Gunungkidul. Hasil ubinan pada lahan dengan pola tanam reguler dan jarak tanam 20 × 20 cm mencapai 3,57 kg, dengan estimasi produktivitas sebesar 5,71 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.
Sementara itu, pada lahan yang menerapkan model PM-AAS dengan pola tanam jajar legowo 4:1, hasil ubinan mencapai 5,32 kg dengan estimasi produktivitas 8,51 ton GKP per hektare. Hasil tersebut menunjukkan peningkatan produktivitas sebesar 49 persen atau sekitar 2,8 ton GKP per hektare dibandingkan pola tanam reguler.
Hasil positif juga terlihat pada ubinan di lahan KT Mayang Sari, Tompak, Kalurahan Ngawu, Kapanewon Playen, Gunungkidul. Dengan menggunakan varietas Padjajaran dan model tanam PM-AAS 4:1, hasil ubinan mencapai 6,2 kg dengan jumlah 324 rumpun dan rata-rata 13 anakan per rumpun.
Berdasarkan hasil tersebut, estimasi produktivitas mencapai 9,92 ton GKP per hektare, meningkat dari produktivitas eksisting sebesar 8,4 ton per hektare. Dengan demikian, terdapat peningkatan sekitar 18 persen atau 1,52 ton GKP per hektare.
Hasil ubinan di kedua lokasi ini menunjukkan potensi penerapan PM-AAS dalam meningkatkan produktivitas padi melalui pengaturan pola tanam dan penerapan teknologi budidaya yang lebih optimal. Capaian tersebut diharapkan dapat mendorong petani untuk mengadopsi inovasi pertanian modern sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani.
Melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh, dan kelompok tani, BRMP Yogyakarta terus mendorong penerapan teknologi pertanian modern guna meningkatkan produksi padi dan mendukung percepatan swasembada pangan berkelanjutan di Daerah Istimewa Yogyakarta (ESH).